sang arsitek [Y. B. Mangunwijaya]


ini kutipan dari ybm dan kutipan dari milis IAI:

Sang Arsitek
Y. B. Mangunwijaya
Kompas, 13 Mei 1976

= SELAMAT MALAM para televioner yang terhormat. (Senyum ayu sayu). Dalam wawancara ini kami perkenalkan pada Anda (angguk oleng lirik) Insinyur P. C. Jamin Manjulang (sesosok tubuh artistik berbusana Cassanova de Puorto Rico menganggukkan matematis kepala berwajah beton bertulang, berkumis Rokoko antik, berbingkai rambut mengkilau Hiho Shampoo anti ketombe). Seperti para pirsawan ketahui, beliau adalah arsitek tenar dan putra pertama bangsa kita yang minggu yang lalu berhasil merebut piala Grand Prix d’Architecture Contemporaine des Nations Developpant dalam Festival Arsitektur di Makao. Saudara Jamin Manjulang, (bulu mata sangat manjulang dari wartawati berkipyar—kipyur sebentar menurut protokol) selamat datang kami ucapkan atas nama para pirsawan. Kami bangga, bahwa seorang putra Nusantara berhasil menggondol, eh maaf memenangkan hadiah segemilang itu. Bolehkah kami bertanya, karena prestasi apa Grand Prix itu diberikan kepada Saudara? Kami membaca di majalah Kompasikom, bahwa Anda adalah perencana dari 17 hotel internasional di Nias, Seram, Roti, Morotai dan real—estate para VIP di Nusakambangan. Juga bahwa 8 bank besar di ibukota Badui dan Samin merupakan buah ilham Anda, tanpa melupakan pencakar langit yang tertinggi di seluruh Emerging Countries bertingkat 45. Dan tentulah para pirsawan masih ingat Proyek Maksi yang termasyhur itu. Dan Kompleks Stadion Olimpik di Buton, yang menjadi gelanggang PSSI kita melawan Ajax dan Real Madrid, nah itu pun bersumber pada ilham saudara Jamin Manjulang nun di zaman Ordo Lama dulu yang sampai kini ternyata masili membuktikan keampuhannya, eh maksud saya stadionnya. Dan bukanlah rahasia umum lagi, para pirsawan yang serba pirsa, bahwa konsep tata kota metropolitan di seluruh Indonesia bermula dari daya brilantin Saudara Jamin Manjulang.
Dan bukankah Insinyur Manjulang, selain kontraktor ulung, adalah juga pada malam hari menjabat Rektor Universitas Empu Gandring? Betulkah itu semua Saudara Jamin?

= (Batuk—batuk kecil irama Rumba) oh ya… eh… ya, ya betul… eh apa tadi?

= Nah, para pirsawan, memang kita harus bangga punya arsitek—arsitek pribumi setingkat planet seperti Insinyur Manjulang. Maafkan apa para pirsawan boleh tahu, Saudara lahir di mana?

= Eh, o saya? Ya… eh, bagaimana ya…

= (Senyum keibuan GOW) Nah para pirsawan, tentulah Saudara Jamin tidak suka sombong. Maka baiklah saya saja yang mengatakannya. Beliau lahir di geladak kapal berbendara Panama ketika itu, di dekat Pulau Nusa Muspida namanya. Maklumlah, orang tua beliau tergolong salah seorang pionir Andalas terkemuka dalam proyek raksasa transmigrasi ke Jawa. Dan ternyata life—story beliau sangat tampak juga dalam kreasi arsitektural buah—buah ciptaan beliau. Suatu tanda kualitas prima.
Misalnya gedong restoran Trans—Java—Buslines yang tersohor penuh pelayan akrobat itu. Di situ keteguhan patriarkhat (kebapaan) Aceh dan Batak berpadu harmonis dengan keluwesan politik—ekonomi matriarkhal (keibuan) Minang—Padang.
(Sang Arsitek mengangguk—angguk penuh acc) Juga misalnya gedung pusat Bank Toba mengekspresikan gaya komersial Medan yang tak gentar menentang wasit mana pun, namun toh di situ tampak siratan garis−garis mistik Kubu.
Demikian pun para pirsawan dapat menikmati konsep arsitektur Ir. Jamin Manjulang pada Bea Cukai Palace, yang merupakan resultante sintetis dari stail kegesitan perahu—perahu Riau, keterampilan akal Palembang dan warta watak internasionalisme sindikatif dari Singapura. Maka Saudara Jamin Manjulang, dapatkah Anda menerangkan, tugas utama apa yang diemban oleh panggilan arsitek negara, yang masih sedang dalam tahap pengisian pertama kemerdekaan bangsa kita?

= (memuntir kumis) O, itu… well… ya—ya… (mata bersenam ke sudut kanan sudut kiri seperti bandul jam zaman van Heutz) ya, sebetulnya banyak itu… well, dilihat dari sudut mana…

= Demikian para pirsawan, memang tugas arsitek di masa ini sangatlah berat namun mulia. Saudara Jamin, dari sejarah kami dulu belajar, bahwa sejak zaman Mesopotamia, Mesir atau Tiongkok, arsitek sering berkedudukan setingkat perdana menteri, karena keagungan raja—diraja di masa lampau diukur dari kehebatan arsitektur istana maupun tata kota kerajaan. Misalnya arsitek muda Senmut, yang kala itu menjadi menteri PU merangkap jabatan kekasih Maharani Hatshepsut, Firaun putri Mesir. Begitu juga kita kenal pasangan arsitek ulung Sinatz Dschami yang membangun masjid agung Istanbul dengan Sultan Sulaiman, lagi insinyur Mohammed Aga ibn al—Mu’in dengan Sultan Ahmad. Di dunia Barat pun kita kenal nama−nama seperti Donato Bramante dan Michelangelo untuk Pope Julius, Jules Hardouin—Mansard untuk Louis XIV, Fontaine dan Haussmann untuk Kaisar Napoleon… Ya, saudara Jamin Manjulang, apakah kita harus mendidik arsitek—arsitek kita menjadi seperti mereka itu?

= O, harooos, harus. Kita kan bukan bangsa tempe.

= (wartawati tersenyum mikhelangelik) Lalu bangsa apa?

= Yah… anu dong. Bangsa kaviaaar dengan croquettes de rossignol. Atau pommes frites met verse harring. Paling dikit pangsitbuyonghaikan.

= (wartawati mengangguk—angguk, pucuk lidah keluar dikit) bagaimana Saudara Jamin, apakah menurut pengamatan Anda generasi sekarang cukup punya persediaan bakat arsitek bagus?

= Of course of course… (mengangguk—angguk sip, seperti presiden direktur yang sukses berkat Ambinol obat ambeien). Arsitek—arsitek kita bukan cuma e… apa itu… kualitas minyak kelapa, tapi eh Sintanola dong.

= Saudara Grand Prix, bagaimana perasaan Anda ketika harus merencanakan gedung bertingkat 45 sesukar itu?

= O itu?… eh… ya… biasa… bukan soal… ya biasa. Seperti… seperti, yah bila Anda menggoreng pisang saja.

= (Ketawa renyah mirip arisan Persatuan Istri Arsitek). Biasanya yang menggoreng pisang suami saya, terus terang saja.

= O ya?

= Itu modern sekarang. Tetapi kembali tadi, betulkah arsitek—arsitek kita sungguh bisa diandalkan?

= Why not… why not. (tangan menengadah dramatis). Misalnya saya ini. Saya dulu… eh… belajar dari Le Corbusier di Perancis, Buckminster Fuller di USA, eh Eirmann di Jerman, Alvar Aalto di Finlandia, eh… eh Van de Broek en Bakema di Nederland, eh Nervi di Italia apalagi… well Lucio Costa dan Kenzo Tange kawan saya bilyart… dan biasa bukan, bila murid melebihi guru−gurunya?

= (bulu mata wartawati berkepyar—kepyur lagi) Pernahkah Anda dulu belajar juga sistem dan strategi Dinas Arsitektur di Rusia dan negara−negara sosialis lain, ferutama RRC?

= (membelalak) Apa? Ah… tsj! Itu negara−negara tidak bermutu. Habis komunis sih, mau apa lagi?

= (Wartawati menggelengkan kepala, elegan sekali). Maafkan Saudara Jamin. Kami kaum awam. Tetapi benarkah yang kami baca, bahwa dalam masalah perumahan rakyat, negara−negara sosialis seumumnya sangat berhasil?

= What? Dari mana kabar infiltrasi itu? Pravda ya atau Harian Rakyat?

= Dari PBB. Kebetulan kami baca dalam laporan Sekretaris Jenderal PBB tentang Housing, Building and Planning in the 2nd UN’s Development Decade.

= Ah! PBB sekarang sudah lain sih dari dulu. Eh… apa itu… terlalu banyak New—Left di situ. Coba itu lihat mode pakaian pembesar—pembesar RRC kek Viet—Nam Hanoi kek, sampai wanitawanitanya pun… heh… stupid… seperti piyama goni saja. Ya begitu itu arsitektur mereka. Sungguh under—developed. Kita kan lain… (membusung dada membelai dasinya model Beetthoven).

= (wartawati tersenyum, manis sekali) Saudara Jamin Manjulang, pernah saya mendapat hadian buku “Space and Architecture” karangan Siegfried Giedion. Di situ terbaca, bahwa seluruh keagungan arsitektur Perancis zaman sebelum revolusi hanya menguntungkan lapisan−lapisan tertinggi saja. Sedangkan rakyat serta perkampungannya tidak kebagian apa—apa. Sebastian Vauban, arsitek militer raja Louis XIV ketika itu melihat kepincangan tersebut sebagai suatu bahaya latent pemberontakan rakyat. Maka ia menulis, suatu dokumen yang terkenal selaku ”Project d’une dixieme Royale” (Usul rencana satu persepuluh kerajaan) yang menyarankan, agar lapisan−lapisan tinggi pun harus ikut membayar pajak satu per sepuluh dari pendapatan mereka, agar keuntungan pembangunan dapat adil dinikmati rakyat juga. Sebab sebelum itu, hanyalah rakyat yang harus memikul beban—beban pembangunan. “Apa yang sering salah kaprah disebut sampah rakyat (kampung—kampung) pantas mendapat perhatian serius dari raja kahyangan” demikian Vauban. “Massa rakyat adalah sangat penting, melihat jumlah manusianya dan jasa mereka yang besar kepada negara.” (1709) Petisi Vauban membakar amarah sang maharaja, dan Vauban disingkirkan, hetapa pun mahir ia dalam ilmu pertahanan. Saudara Jamin Manjulang, apakah menurut Anda, pelajaran sejarah Perancis Ancient Regime (Ordo Lama) itu pantas kita perhatikan serius juga?

= Ah… tsj! Perancis kan Perancis. Kita kan lain (memijit—mijit hidung) Pertanyaan lain saja ah.

= (termenung sebentar) Saudara Jamin sungguh arsitek besar. Dapatkah Anda menciptakan suatu rumah yang cukup pantas baik dan moderen, manis dan terutama murah, misalnya… seharga 100.000 untuk keluarga beranak tiga?

= Apa? Seratus ribu? Dollar Kanada. USA atau Pound Sterling? Kalau rupiah sih jangan pergi ke arsitek. Itu bukan tugas kami. Itu tugas tukang—tukang kampung. Understand?

= (wartawati senyum penuh pengertian) Terima kasih Saudara Insinyur Jamin Manjulang. Terima kasih para pirsawan. Maka kita menanjak ke acara berikut: Drama New—Sri—Mulat, dengan lakon: “Arsitek, calon menantu.”

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

5 thoughts on “sang arsitek [Y. B. Mangunwijaya]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s